Rendezvous of Soul

Blog EntryMengatasi Saat Anak Keranjingan TelevisiFeb 20, '06 2:15 AM
for everyone
MARAKNYA kehadiran stasiun televisi di satu sisi memberikan alternatif tontonan dan memperluas cakrawala penontonnya.

Namun, di sisi lain muncul kekhawatiran terutama terkait serbuan beragam acara televisi yang dianggap berdampak negatif bagi anak. Katakanlah beragam sinetron yang sarat kekerasan dan pertengkaran. Belum lagi cerita misteri dan aneka film dewasa.

Memang telah ada regulasi dan upaya mengatur berbagai tayangan televisi. Bahkan, sudah berdiri Komisi Penyiaran Indonesia yang diharapkan menjembatani industri pertelevisian dengan kebutuhan masyarakat. Kenyataannya, semua itu sulit membendung tayangan negatif agar jauh dari anak-anak.

Begitulah yang muncul dalam seminar bertajuk "Pengaruh Televisi Terhadap Prilaku Anak", Sabtu (12/2), yang ramai dihadiri ibu muda.

"Sulit sekali membendung acara yang berdampak negatif bagi anak. Sebagai ibu bekerja, anak terpaksa ditinggal dengan pengasuh. Acara kesukaan si pengasuh, seperti sinetron, acara misteri, atau musik dengan goyang berlebihan, juga yang ditonton anak walaupun sudah dilarang," keluh seorang ibu muda.

Tak mengherankan jika kemudian para ibu itu berbalik mempertanyakan sejauh mana tanggung jawab televisi terhadap program tayangannya.

Psikolog anak dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Mayke S Tedjasaputra, mengungkapkan, televisi semakin menjadi bagian hidup tak terpisahkan. "Televisi bisa ada di ruang tamu, ruang tidur, ruang tidur anak, dapur, bahkan garasi. Sejak bangun pagi, televisi sudah dinyalakan dan dikonsumsi oleh anak," katanya.

TIDAK selamanya televisi berdampak negatif bagi anak. Keunggulan televisi sebagai media elektronik dibandingkan media cetak-antara lain stimulus yang lebih intens dan melibatkan beberapa indera-sehingga lebih memukau bisa dimanfaatkan untuk program yang dapat merangsang anak lebih kreatif. Hanya saja, terlalu berlebihan atau keranjingan menonton televisi tetap harus diwaspadai. Perhatikan durasi anak menonton dan pilihkan program yang sesuai.

Mayke mengatakan, sebaiknya anak usia 0-3 tahun sama sekali tidak menyaksikan televisi. Menurut penelitian di Amerika Serikat, anak usia satu tahun yang mengonsumsi televisi selama tiga jam sehari dapat stimulus berlebihan. Akibatnya, anak terganggu konsentrasinya dan tidak fokus saat mengerjakan sesuatu.

Pada anak usia di bawah lima tahun, stimulus akan diterima oleh sistem limbic. Reaksinya ialah menyerang balik atau takut. Muncullah sifat agresif atau impulsif, termasuk mengikuti adegan berbahaya di televisi.

Kebiasaan berlama-lama menonton televisi juga akan mengurangi aktivitas fisik anak. Demikian pula interaksi sosial anak karena televisi hanya menyediakan interaksi satu arah. Hal ini dapat mengakibatkan perkembangan bahasa anak terlambat.

Agar anak tidak keranjingan televisi, menurut Mayke, peran orangtua yang paling besar. Ketimbang menyaksikan televisi, orangtua perlu lebih sering menghabiskan waktu dengan anak, misal bermain atau membacakan cerita.

Orangtua harus ikut berkorban menahan godaan untuk tidak banyak menonton televisi. Anggota keluarga yang lain juga lebih baik kalau bisa dikondisikan demikian. Di dalam kamar anak lebih baik tidak disediakan televisi. Mereka dapat menonton di ruang keluarga dengan didampingi orangtuanya untuk menerangkan isi positif dan negatif acara. "Anak juga perlu diyakinkan antara kenyataan dan khayalan di dalam tayangan televisi," katanya.

Saat anak keranjingan tayangan televisi tanpa terarah, berbagai kejutan bisa muncul. Seperti yang dialami Mayke dengan salah satu kliennya, seorang remaja yang berupaya bunuh diri ketika berselisih dengan orangtuanya.

"Dia bilang bunuh diri itu gampang, tinggal loncat dari jendela atau memotong nadi dengan silet. Ketika ditanya dari mana dia tahu, jawabnya dari sinetron," kata Mayke.

DIREKTUR Utama TransTV Ishadi SK yang jadi pembicara mengatakan, televisi sudah menjadi realitas hidup masyarakat. Stasiun televisi berpijak pada bisnis dan idealisme, dan tidak mudah menjalankan idealisme itu.

Dia mencontohkan pembelian film. Film umumnya dibeli dalam bentuk paket dan tidak semua isi paket baik. "Dalam sebuah paket, bisa saja terdapat dua film berkualitas dan puluhan film kacangan," katanya.

Selain kontrol di stasiun televisi sendiri, dia mengatakan kontrol juga dapat dilakukan dari luar. Misal melalui advokasi, regulasi, dan tekanan publik.

Sejumlah program yang mendapat kecaman masyarakat terbukti dihentikan, baik oleh stasiun televisi atau sponsor akhirnya menarik diri.

Ishadi mencontohkan kelompok masyarakat yang pernah memprotes sebuah program. Mereka meneliti isi program, meminta pendapat ahli, dan memublikasikan hasilnya ke masyarakat sehingga akhirnya acara itu dihentikan.

Add a Comment
   
© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.